Senin, 16 Juli 2012

NERACA PEMBAYARAN, KURS VALIUTA ASING, DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

NERACA PEMBAYARAN, KURS VALIUTA ASING, DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

by John Viter Pohan on Wednesday, July 11, 2012 at 9:48pm ·
I. NERACA PEMBAYARAN
a. Pengertian
Dalam kamus ekonomi tertera pengertian, neraca pembayaran adalah daftar piutang suatu perusahaan atau negara dengan perusahaan atau negara lainnya selama waktu tertentu, umumnya satu tahun, yang diatur secara sistematis.
Neraca pembayaran (balance of payment) adalah catatan sitematis dari semua transaksi ekonomi internasional, baik perdagangan, investasi, maupun pinjaman yang terjadi antara penduduk dalam negeri suatu negara dan penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu, lazimnya satu tahun, yang dinyatakan dalam dolar AS. (Tulus tambunan, 2000).
Pendapat Tulus Tumbunan diidukung oleh International Monetary Found (IMF) 1993 yang menyatakan, Balance of payment adalah “A statement that systematically, for specific time period, the economic transactions of an economic with the rest of the world. Transaction, for the most part between residents and nonresident, consist of those involving goods, services, and income; those involving financial claim an assets and liabilities to, the rest of the world; and those (such gift) classified as transfer, which involve offsetting entries to balance in an accounting sense – one set transaction”.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar atau susunan sistematis yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lainnya selama jangka waktu tertentu, biasanya selama satu tahun. Mencakup pembelian dan penjualan barang – jasa dan transfer keuangan dari individu dan pemerintah asing, begitu juga dengan transaksi financial. Dan pencatatan transaksi tersebut menggunakan sistem akuntansi sehingga setiap transaksi yang terjadi akan dicatat dua kali (double entry bookeping) dengan menggunakan sistem debet-kredit.
b. Sistem Pencatatan Neraca Pembayaran
Pencatatan neraca pembayaran menggunakan dua variabel, yaitu debet dan kredit.
Transaksi debet adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya pembayaran kepada penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang keluar yang terjadi antar negara. Transaksi debet meliputi :
1. Impor barang dari negara lain, pembayaran jasa transportasi, jasa asuransi, dan ongkos makelar kepada penduduk.
2. Pembayaran bunga dan dividen kepada penduduk lain.
3. Pembayaran hadiah dan pengiriman uang kepada penduduk negara lain.
4. Investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain.
5. Penduduk yang melakukan pembelian emas dari negara lain.
6. Penduduk yang menabungkan uangnya di bank luar negeri.
Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebakan terjadinya penerimaan dari penduduk negara lain atau yang menyebabkan arus masuk yang terjadi antara negara. Macam-macam penyebab transaksi kredit:
1. Ekspor barang ke negara lain.
2. Penerimaan jasa transportasi, asuransi, ongkos makelar dari luar negeri.
3. Penerimaan bunga dan dividen dari penduduk negara lain.
4. Penerimaan hadiah dan kiriman uang dari penduduk negara lain.
5. Investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain di dalam negeri.
6. Investasi jangka pendek yang ditanamkan penduduk negara lain di dalam negeri.
7. Penjualan emas pada penduduk negara lain.
8. Penduduk negara lain yang menabungkan uangnya di bank dalam negeri.


c. Komponen Neraca Pembayaran
1. Neraca Berjalan, mencatat transaksi, berupa pembayaran yang diperoleh dari perdagangan barang dan jasa . Transaksi ini dibagi menjadi dua:
Pertama, balance of trade ► transaksi barang-barang yang disebut visible account adalah catatan pembayaran dan penerimaan yang datang dari impor dan ekspor barang-barang sifatnya sebagai barang yang tampak (tangible goods). Ekspor barang dicatat pada sisi kredit (+) dan impor barang dicatat pada sisi debet (-).
Kedua, Service Account ►transaksi jasa-jasa disebut invisible account atau service account yang mencatat pembayaran yang diperoleh dari perdagangan jasa dan pembayaran untuk penggunaan modal. Contohnya pembayaran bunga, biaya transportasi, biaya asuransi, remittance berupa jasa TKI atau TKW, dsb.
Lebih jelasnya mengenai debet-kredit yang terjadi pada neraca pembayaran seperti di bawah ini:
PERDAGANGAN BARANG DAN JASA
Debet Kredit
1. Impor barang-barang dagang
2. Impor jasa-jasa:
- Pembelian jasa angkutan.
- Pembelian jasa asuranasi
- Pengeluaran turis dalam negeri di luar negeri
- Pembelian jasa lainnya dari luar negeri
- Pembayaran investasi asing di dalam negeri oleh penduduk negeri 1. Ekspor barang dagang
2. Impor jasa-jasa, seperti:
- Penjualan jasa angkutan
- Penjualan jasa asuransi
- Pengeluaran turis mancanegara
- Penjualan jasa lainnya dari luar negeri
¬- penerimaan pendapatan investasi di luar negeri oleh orang lain

TRANSFER
Debet Kredit
1. Pembayaran pensiun pada orang asing.
2. Sumbangan swasta ke luar negeri
3. Bantuan pemerintah ke luar negeri 1. Penerimaan pensiun dari luar negeri.
2. Sumbangan swasta asing ke dalam negeri
3. Sumbangan pemerintah asing ke dalam negeri
Sumber Nopirin, 1992


2. Neraca Modal, merupakan penghitung bagian yang kedua dalam neraca pembayaran. Mencatat aliran modal jangka panjang dan jangka pendek. Capital Account berlawanan dengan pencatatan yang ada di Current Account, jadi ketentuannya tidak sama. Dan ketentuannya neraca modal adalah apabila transaksi berbentuk impor modal maka dicatat sebagai transaksi kredit (+). Sedangkan transaksi ekspor modal dicatat sebagai transaksi debet (-).
Modal jangka panjang, semua modal yang masuk ke suatu negara dicatat pada sisi kredit, atau modal yang keluar dari suatu negara di letakkan pada debet, diinvestasikan dalam bentuk aktiva. Modal jangka pendek, merupakan uang yang masih dalam bentuk aktiva yang mudah dicairkan, seperti rekening bank dan surat berharga. (Agus Maulana. Pengantar Makroekonomi. Edisi Kesepuluh, jilid 2)

Tabel transaksi debet dan kredit dalam neraca modal (capital account)
MODAL JANGKA PANJANG
Debet Kredit
1. Investasi langsung di luar negeri
2. Pembelian surat-surat berharga jangka panjang milik negara
3. Pinjaman jangka panjang yang diberikan kepada penduduk negara lain 1. Investasi asing di dalam negeri
2. Pembelian surat-surat berharga jangka panjang dalam negeri oleh penduduk asing
3. Pinjaman jangka panjang yang diterima dari penduduk negara lain
MODAL JANGKA PENDEK
Debet Kredit
4. Kredit untuk pedagang dari negara lain
5. Deposito bank di luar negeri
6. Pembelian surat-surat berharga luar negeri jangka pendek 4. Kredit untuk pedagang yang diberikan kepada negara lain.
5. Deposito bank dalam negeri milik negara lain
6. Penjualan surat-surat berharga dalam negeri jangka pendek kepada penduduk negara lain
Sumber Nopirin, 1992

Dua aliran lalu lintas modal di atas dilakukan oleh pemerintah dan swasta. Perbedaannya, lalu lintas pemerintah neto adalah selisih antara pinjaman baru yang didapat dari luar negeri dan pelunasan utang pokok dari pinjaman yang diperoleh pada priode sebelumnya. Sedangkan lalu lintas modal swasta neto adalah selisih antara dana investasi dan pinjaman swasta dari luar negeri dengan pelunasan utang pokok swasta dan dana investasi ke luar negeri.
Intinya dalam transfer modal, arus modal masuk atau impor dianggap sebagai keuntungan negara yang bersangkutan. Dengan begitu, apabila arus modal masuk maka akan dicatat sebagai transaksi kredit (positf). Sementara arus modal keluar dicatat dalam transaksi debet (negatif). .
3. Selisih perhitungan (error and omission)
Error and Omission adalah selisih yang tidak dapat diperhitungkan. Terdiri dari kata error yang merupakan selisih yang terjadi kerena adanya kesalahan pencatatan atau perhitungan, dan kata omission adalah selisih karena adanya perdagangan atau transaksi penyelundupan atau perdagangan yang tidak pasti tercatat.

4. Neraca Keseluruhan
Merupakan jumlah dari seluruh transaksi-transaksi yang ada pada neraca berjalan, neraca modal, dan selisih perhitungan.

Contoh neraca pembayaran Indonesia, 1998 dan 2001 (juta dolar US)
Jenis Mutasi Keuangan 1996/97 2000/01

a. Transaksi Berjalan
1. Ekspor-impor barang
a. Ekspor 52.038 65.408
i. non migas (39.267) (50.341)
ii. migas (12.771) (15.067)
-minyak (7.513) (7.954)
- Gas (5.258) (7.113)
b. Impor 45.819 40.367
i. Non Migas (41.126) (34.376)
ii. Migas (4.693) (5.989)
-Minyak (4.423) (5.653)
-LNG (270) (336)

Neraca perdagangan 62.219 25.041

2.Ekspor-impor jasa (neto) -14.288 -17.050
i. non migas (-10.747) (-12.500)
ii. migas (-3.541) (-4.550)

Neraca transaksi berjalan -8.069 7.991
b. Transaksi Modal
1. Modal pemerintah (neto) -820 3.218
i. Penerimaan 5.298 65.408
i. CGI (4.857) (2.420)
ii. Di luar CGI (441) (5.070)
ii. Pelunasan -6.118 -4272
2. Modal Swasta (neto) 13.138 -9.990
a. Penanaman modal langsung (6.546) (-4551)
b. Lainnya (6.592) (-5.439)
3. Jumlah (1) + (2) 12.318 -6772

c. Selisih perhitungan 701 3.824

Neraca keseluruhan 4.950 5.043


Dari contoh neraca pembayaran di atas dapat ditarik benang merah bahwa:
- Transaksi berjalan
Balance of payment di atas terdiri dari ekspor-impor barang dan ekspor-impor jasa. Dan kemudian dipilah menjadi migas dan non-migas. Dari data tersebut dapat dianalisis bahwa pada tahun 1996/97s/d 2000/01 untuk barang, terjadi kenaikan ekspor sebesar 13.370 dari 52.038 menjadi 65.408. Naiknya ekspor ini dipicu oleh ekspor non-migas dan migas (gas alam) yang pertumbuhannya cukup signifikan untuk merubah neraca negara. Selain itu, impor yang awalnya 45.819 turun menjadi 40.367. Turunnya angka tersebut juga disebabkan oleh non-migas.
Sedangkan untuk defisit ekspor-impor jasa neto mengalami peningkatan dari 14.288 menjadi 17.050.
Angka neraca perdagangan yang membaik dapat menjadi stimulus yang positif pada neraca transaksi berjalan meskipun pada tahun 1996/97 defisit namun mengalami perbaikan di tahun 2000/01 surplus.

- Transaksi Modal
Transaksi modal di atas dibedakan menjadi lalu lintas modal pemerintah neto dan modal swasta neto. Beda dengan neraca perdagangan yang menunjukkan pembaikan cukup galak. Transaksi modal pada tabel di atas cukup memprihatinkan. Bisa dibaca dari penerimaan pemerintah berupa pinjaman yang meningkat dari 5.298 ke 7.490, sedangkan pelunasannya menurun dari 6.118 menjadi 4.272. Kondisi buruk ini juga ditambah oleh keadaan modal swasta yang mencapai 13.488. Mengalami defisit pada tahun 2000/01 sebesar 9.990 dengan rincian penanaman modal langsung 4.551 dan lainnya 5.439.

- Selisih perhitungan (error and omission)
Dari data di atas jumlah perhitungan aliran modal yang tidak dicatat semakin meningkat. Pada tahun 1996/97 hanya sebesar 701 tapi di tahun 2000/01 meningkat drastis sebesar 3.123. Jadi jelaslah bahwa aliran modal yang masuk ke Indonesia jumlah yang tidak dicatat cukup besar.

- Neraca Keseluruhan
Data neraca keseluruhan di atas memang menunjukkan surplus tapi masih mengalami penurunan dari 5.300 (1996/97) ke 5.043 (2000/01). Kondisi ini dapat dilihat dari jumlah ekspor impor barang yang surplus dapat menutupi kekurangan ekspor-impor jasa yang defisit. Surplus tinggi pada neraca perdagangan menjadi faktor perubahan neraca berjalan dari defisit menjadi surplus. Meski keadaan neraca keseluruhan surplus akan tetapi masih harus ada perbaikan ke depan karena kondisi yang tidak kukuh.
Apabila perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, impor akan mengalami kenaikan pesat pula. Begitu juga ekspor-impor jasa akan mengalami kenaikan. Setelah itu kemungkinan yang akan terjadi pemerintah akan menambah pinjaman pada negara lain dan utang yang akan dilunasi belum tentu setara dengan jumlah pinjamannya. Jika kondisi ini tidak dibarengi dengan keadaan neraca perdagangan dan aliran modal swasta maka kondisi perekonomian negara ini akan lemah. Untuk menciptakan kekokohannya lagi dibutuhkan tanggung jawab elemen negara.

d. Neraca pembayaran surplus, defisit, dan seimbang
Tanda (+) dan (-) dapat menyebabkan saldo neraca pembayaran menjadi surplus, defisit, dan seimbang. Alasannya, karena neraca pembayaran diperoleh dari penjumlahan selisih perhitungan, saldo neraca berjalan dan saldo neraca modal. Dapat diformulasikan sebagai berikut:
Jadi, apabila anatara transaksi berjalan dan modal diakumulasi akan berdampak tehadap neraca pembayaran menjadi defisit, surplus, dan seimbang. Lebih jelasnya mengenai maksud defisit, surplus, dan seimbang. Seperti di bawah ini:

1. Neraca Pembayaran Defisit
Defisit pembayaran terjadi jika transaksi berjalan dan transaksi modal sama-sama defisit, ini bisa disebabkan oleh: 1. Defisit transaksi berjalan lebih besar daripada surplus transaksi modal, 2. Defisit transaksi modal lebih besar daripada surplus transaksi berjalan. Jadi, defisit neraca pembayaran terjadi jika pembayaran impor barang dan jasa serta modal keluar lebih besar daripada penerimaan barang ekspor barang atau jasa dan modal masuk.
Defisit neraca pembayaran bagi suatu negara dapat menghabiskan cadangan devisa, sehingga harus meminjam uang dari negara lain untuk menutupi kekurangan dana dalam membiayai impor barang dan jasa. Akibatnya, nilai uang dalam negeri semakin merosot atau terdepresiasi. ketika devisa terus menipis, maka yang terjadi negara lain akan berhenti memberikan pinjaman untuk menghindari kredit macet.
Untuk mengantisipasi permasalahan ini, dapat diterapkan dua kebijakan. Pertama, kebijakan pengalihan pengeluaran, yaitu dengan cara, penurunan nilai tukar mata uang terhadap valuta asing. Tindakan yang seperti ini disebut devaluasi dalam sistem kurs tetap atau depresi dalam sistem kurs mengambang. Akibatnya, harga barang ekspor menjadi murah di pasar internasional. Sementara itu, harga barang impor menjadi mahal di pasar dalam negeri. Selanjutnya, penerimaan ekspor barang dan jasa akan meningkat, sebaliknya pembayaran impor barang dan jasa menurun. Dengan demikian, cadangan devisa semakin bertambah sehingga neraca pembayaran menjadi surplus atau seimbang. Kedua, kebijakan pengurangan pengeluaran. Caranya dengan mengurangi permintaan masyarakat dalam negerim melalui kebijakan moneter dan fiskal. Akibatnya, harga barang dan jasa eksor lebih kompetitif Karena harga turun.

2. Neraca Pembayaran Surplus
Neraca pembayaran akan surplus disebabkan oleh tiga kondisi: Pertama, jika transaksi berjalan dan transaksi modal sama-sama surplus. Kedua, surplus transaksi berjalan lebih besar daripada defisit transaksi modal. Ketiga, surplus transaksi modal lebih besar daripada defisit transaksi berjalan. Intinya surplus neraca pembayaran dapat terjadi jika penerimaan dari ekspor barang atau jasa dan modal masuk lebih besar daripada pembayaran impor barang atau jasa dan modal keluar.
Jika defisit neraca pembayaran meruntuhkan perekonomian suatu negara, bagaimana dengan surplus neraca pembayaran? Surplus neraca pembayaran tentun menguntungkan, karena negara akan memiliki cadangan devisa yang cukup. Tetapi perlu diketahui, bahwa surplus neraca pembayaran yang terus-menerus diperoleh suatu negara tidak lagi menguntungkan. Karena posisi neraca pembayaran negara tersebut sangat kuat. Posisi ini akan menaikkan nilai tukar suatu negara sehingga mengurangi daya saing barang atau jasa ekspornya. Dan naiknya nilai tukar atau kurs valuta asing juga menaikkan harga barang atau jasa ekspor negara di mata pasar internasional. Sebaliknya, harga barang atau jasa impor menjadi murah sehingga penduduk lebih suka membeli barang atau jasa impor. Jadi, surplus neraca pembayaran hanya digunakan untuk membiayai impor tersebut.
Selain kehilangan daya saing di pasar internasional, surplus neraca pembayaran yang terus menerus juga meningkatkan laju inflasi di dalam negeri. Alasannya karena jumlah uang beredar semakin bertambah sebagai akibat tindakan pemerintah yang mengucurkan uang ke pasar untuk mengendalikan naikknya nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing. Inflasi ini akan menaikkan harga barang atau jasa di dalam dan luar negeri. Jadi, surplus neraca pembayaran akan mengurangi atau menghapus daya saing yang beredar barang atau jasa ekspor pasar internasional.

3. Neraca Pembayaran Seimbang
Neraca pembayaran dapat dikatakan seimbang jika penerimaan internasional sama dengan pembayaran internasional. Jadi, neraca pembayaran akan seimbang jika surplus transaksi berjalan sama dengan surplus transaksi modal.
Saldo neraca pembayaran memang selalu sama dengan nol. Hal ini merupakan semata-mata karena konsekuensi dari pembukuan transaksi luar negeri tersebut. Artinya, uang dan barang yang mengalir keluar harus diimbangi dengan uang dan barang yang mengalir masuk. Jadi, neraca pembayaran suatu negara selalu seimbang dari segi akuntansi. Tetapi, saldo nol di neraca pembayaran tidak mempunyai arti penting bagi analisi ekonomi. Alasannya karena kondisi ini tidak dapat menunjukkan kondisi keuangan internasional suatu negara. (Ekonomi SMA; Endo Sariono et all)
Pernyataan yang lain, ditukil dari buku Sadono Sukirno bahwa neraca pembayaran selalu seimbang. Penyebab neraca pembayaran selalu seimbang adalah ketidakseimbangan dalam neraca neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh bank sentral.

II. KURS VALUTA ASING
Kurs adalah suatu perbandingan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain. Dalam artian mata uang suatu negara dengan negara lain digunakan untuk transaksi ekonomi internasional. Bisa juga diartikan kecenderungan seseorang, perusahaan, dan pemerintah yang menukar uang negaranya untuk memperoleh mata uang asing. Karena dibutuhkan sebagai transaksi internasional.

a. Pelaku Pasar Valuta Asing
Ada beberapa pihak yang ikut bermain dalam percaturan pasar valuta asing. Pihak itu bisa individu biasa yang menjual dan membeli mata uang asing untuk keperluan pembayaran, eksportir dan importir ataupun bank, perusahaan, dan pemerintah. Andilnya pelaku pasar valuta asing adalah untuk melakukan transaksi bisnis internasional.

b. Macam-macam kurs
Di bursa valuta asing dikenal dua macam kurs, :
1. Kurs jual ialah nilai mata uang yang digunakan apabila pedagang valas (money changer) melakukan penjualan valuta asing.
2. Kurs beli ialah nilai mata uang yang digunakan apabila pedagang valas melakukan pembelian terhadap valuta asing.
Lebih jelasnya contoh di bawah ini merupakan transaksi valas yang terjadi di Bank Indonesia (BI):
Mata uang Jual (Rp) Beli (Rp)
US $
Pound
Aus $
Sin $
HK $
Yen
Euro 9.998,00
16.145,77
8.876,22
7.126,16
1.288,98
110,59
14.33,13 8.998,00
14.525,47
7.985,73
6.407,46
1.159,91
99,51
12.890,53
Sumber: Kompas, Selasa, 22 Desember 2009
Dari tabel nilai jual-beli uang asing di atas. Dapat dicontohkan:
a. Suatu saat, seorang mahasiswa AN-NR Unej bernama Brudul ingin tour ke Singapura ia ingin membawa $ 3000, berapa rupiah yang harus ia keluarkan? Dalam hal ini mahasiswa tersebut harus menggunakan kurs jual.
Jawab : Rp 7.126,16 x 3000
: Rp 21.378.480
Jadi mahasiswa tersbut harus membayar sebesar Rp 21.378.480
untuk memperoleh $ 3000.
b. Sepulang mahasiswa itu dari Singapura masih memiliki sisa $ 10, berapa rupiah yang ia akan peroleh? Di sini ia harus menggunakan kurs beli.
Jawab : Rp 6.407,46 x 10
: Rp 64.074,6
Jadi ia masih memiliki sisa uang sebesar Rp 64.074,6

c. Faktor yang mempengaruhi kurs valuta asing
Data kurs valuta asing di atas tidak selama seperti itu (stagnan), pada dasarnya kurs valuta asing senenatiasa terus berubah dari hari kehari. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
Adapun faktor yang mempengaruhi perubahan kurs, sebagai berikut:
1. Permintaan dan Penawaran Valas
Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, harga valas akan menjadi lebih mahal dari harga nominal harga yang berlaku bila permintaan melebihi jumlah yang ditawarkan atau jumlah permintaan tetap, sementara penawaran berkurang. Begitu sebaliknya, apabila permintaan sedikit maka harga juga akan murah.
Lebih jelasnya, perlu dipahami hukum permintaan dan penawaran yang terjadi terhadap mata uang asing:
a. Hukum Permintaan : - Semakin tinggi harga mata uang, semakin sedikit permintaan akan uang tersebut.
- Semakin rendah harga suatu mata uang, maka semakin banyak permintaan mata uang tersebut.
b. Hukum penawaran : - Semakin tinggi harga mata uang, semakin penawaran mata uang tersebut.
- Semakin rendah harga suatu mata uang, maka semakin sedikit pula penawaran uang tersebut.

Setelah hukum permintaan dan penawaran pada transaksi mata uang asing atau kurs. Selanjutnya, aplikasi dari kedua hukum tersebut dapat diterangkan pada tabel di bawah ini:

► Penentu Harga Mata Uang Asing
- Kurva yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah menunjukkan bunyi hukum permintaan, bahwa saat dolar tinggi maka permintaan terhadap dolar akan rendah seperti ditunjukkan kurva di atas, ketika harga dolar sebesar 250 yen maka permintaannya hanya sebesar 1 billion. Lalu ketika harga dolar rendah akibatnya permintaan naik. Seprti ketika harga dolar sebesar 100 yen permintaannya menjadi 4 billion.
- Kurva naik dari kiri bawah ke kanan atas merupakan bentuk dari hukum penawaran, dijelaskan bahwa apabila harga dolar rendah maka penawarannya juga akan rendah, yaitu harga dolar yang sebesar 50 yen berakibat pada sedikitnya penawaran menjadi sebesar 1 billion saja. Dan sebaliknya, jika mata uang dolar tinggi maka penawaran akan meningkat
- Titik temu antara demand dan supply merupakan perpotongan (Equilibrium). Kesimpulannya permintaan dan penawaran terhadap dolar sama yaitu pada saat satu dolar sebesar 150 yen permintaan dan penawarannya sama-sama sebesar 2,5 billion.

► Penentuan Kurs Pertukaran Oleh Pemerintah
Nilai kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas tidak sama dengan keputusan dan kebijakan pemerintah. Ini bertujuan untuk menstabilkan perekonomian suatu negara. Pada gambar kurva di atas adalah kurva yang ditetntukan oleh pemerintah dan memiliki kesamaan dengan kurva yang dibuat oleh pasar bebas. Dalam kurs valuta asing yang ditentukan oleh pasar bebas menjelaskan, bahwa satu dolar sama dengan 150 yen. Telah diterangkan sebelumnya bahwa bertemunya titik DD dan SS akan menyebabkan jumlah sama antara permintaan dan penawaran yaitu sebesar 2,5 billion. Akan tetapi pemerintah Jepang menganggap bahwa kurs yang dibuat oleh pasar bebas kurang sesuai. Sehingga pemerintah Jepang menentukan sendiri nilai tukarnya. Ia mengasumsikan bahwa: Pertama, satu dolar sama dengan 250 yen (kurs pertukaran I), asumsi kedua, satu dolar sama dengan 100 yen (kurs pertukaran ke II).


Keterangan: - Apabila harga mata uang suatu negara yang ditetapkan pemerintah lebih rendah dari ketentuan pasar bebas maka disebut undervalued currency. Dalam grafik di atas ditunjukkan pada kurs pertukaran I.
- Apabila harga mata uang suatu negara yang ditetapkan pemerintah lebih tinggi ketentuannya dibanding pasar bebas maka disebut overvaluaded currency. Ini ditunjukkan grafik di atas pada garis kurs pertukaran II.

► Perubahan-Perubahan Kurs
Perubahan kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas dapat berubah seiring dengan gejolak perubahan permintaan dan penawaran seperti di bawah ini:

1. Efek Kenaikan Permintaan
Kurva di atas menunjukkan kenaikan permintaan (D-D1 dan S-S1). Ketika terjadi permintaan sebesar D dan penawaran sebesar S menunjukkan pertukaran kurs satu dolar sama dengan 150 (150,Q). Tapi saat kurva DD bergerak ke atas menjadi D1D1 harga satu dolar tidak lagi 150 akan tetapi berubah menjadi 200 yen.

2. Efek Kenaikan Penawaran
Adapun kurva di atas menunjukkan perubahan yang terjadi pada penawaran, yaitu dari SS menjadi S1S1. Sehingga berakibat pada turunnya nilai mata uang dolar dari 200 yen menjadi 150 yen. Kedua naiknya kuantitas uang yang dijual-belikan dari QA menjadi QB.

Keterangan :
- Apabila kurs ditentukan oleh pasar bebas bernama kurs pertukaran berubah bebas atau kurs pertukaran mengambang (Floating Exchange Rate) karena akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan penawaran dan permintaan terhadap uang asing. Ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Clean Float (mengambang murni), yaitu penentuan nilai kurs tanpa adanya campur tangan pemerintah.
2. Dirty Float (mengambang terkendali), yaitu pemerintah turut serta dalam memepengaruhi nilai kurs melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.
- Sedangkan kurs yang dibuat oleh pemerintah disebut kurs tetap atau kurs pertukaran resmi (Fixed Exchange Rate). Kurs tetap adalah sistem yang mematok nilai kurs valuta asing terhadap mata uang negara tersebut dengan nilai tertentu yang selalu sama pada suatu priode. Kurs tetap membuat flukturasi nilai tukar suatu mata uang dengan mata uang lainnya, ditentukan oleh pemerintah. Jadi, ada kurs terendah (floor price) dan kurs tertinggi (ceiling price) yang dapat ditolerir pemerintah. Jadi, kurs normal dan ekonomi stabil tercapai jika nilai kurs bergerak antara ceiling price dan floor price.
► Kelebihan dan Kekurangan sistem kurs mengambang dan Sistem Kurs Tetap dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Kelebihan Kekurangan


Floating
Exchange
Rate 1. Tingkat keseimbangan pasar valuta asing selalu tercapai karena ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran melalui mekanisme pasar
2. Pemerintah tidak perlu menyediakan dana untuk mengatur keseimbangan pasar valuta asing 1. Tidak tetapnya kurs akan menyulitkan pemerintah untuk mengambil keputusan atau kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan.
2. memudahkan timbulnya spekulasi dalam perdagangan mata uang asing (valas)


Fixed Exchange
Rate

1. Memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan.
2. Tidak mungkin menimbulkan spekulasi-spekulasi dalam perdagangan bebas 1. Pemerintah harus menyediakan dana atau cadangan valas untuk memperbaiki disequiblirium pasar valas.
2. Selalu terjadi keseimbangan pasar

2. Tingkat Inflasi
Faktor kedua yang menyebakan nilai kurs berubah adalah Tingginya inflasi yang terjadi pada suatu Negara mengindikasikan mahalnya barang-barang tertentu di Negara tersebut. Akibatnya terjadi penurunan nilai mata uang terhadap pasar valuta asing. Ketika terjadi lonjakan harga pada suatu negara yang lebih mahal dari negara lain maka tingkat impor barang akan meningkat. Akhirnya harga ekspor meningkat pula sehingga negara tersebut cenderung mengurangi ekspor ke negara lain. Dampaknya juga terjadi pada nilai mata uang suatu Negara yang semakin rendah di pasar valuta asing sehingga mereka mengurangi penawaran. Sedangkan permintaan terhadap mata uang asing akan meningkat.

3. Tingkat Pendapatan dan Produksi (Pertumbuhan Ekonomi)
Apabila pada suatu priode tertentu terjadi pertumbuhan ekonomi yang relatif pesat yang mengakibatkan tingginya tingkat pendapatan masyarakat, daya beli masyarakat akan semakin tinggi. Pada kondisi yang sama, kapasitas produksi negara tersebut tidak mampu memenuhi atau permintaan masyarakat. Akhirnya, negara tersebut akan mengimpor barang dari negara lain. Semakin besar barang yang diimpor, semakin besar pula permintaan mata uang asing tersebut sehingga harganya relatif akan semakin naik dari harga semula terhadap mata uang lokal.
Sedangkan jika di atas terjadi perkembangan impor, apabila sebaliknya yang berkembang adalah tingkat ekspor suatu negara maka nilai mata uangnya akan naik di pasar valuta asing dan permintaan lebih capat perjalanannya dibandingkan penawaran.

4. Perubahan Dalam Cita Rasa Masyarakat
Hal ini berkaitan dengan selera konsumen dalam memilih barang. Perubahan cita rasa akan menyebabkan perubahan pula atas permintaan terhadap barang dalam negeri dan luar negeri. Apabila kualitas barang dalam negeri lebih baik dari yang diimpor maka masyarakat akan berkurang memanfaatkan barang impor. Begitu sebaliknya, jika kualitas barang dalam negeri lebih rendah dan barang impor lebih bagus kualitasnya maka masyarakat cenderung menaikkan impornya. Akhirnya dua kemungkinan di atas dapat mempengaruhi tingkat permintaan dan penawaran terhadap valuta asing.

5. Tingkat bunga dan Investasi
Pengembalian bunga dan investasi akan menyebabkan kecenderungan dalam mengalirkan modal. Apabila di dalam negeri tingkat bunga dan investasi rendah maka modal akan mengalir ke luar negeri. Jika dalam negeri tersebut mengembalikan bungan dan investasi tinggi maka modal dari luar negeri akan masuk ke dalam negeri tersebut. Akibatnya akan berimbas pada nilai mata uang suatu negara ketika telah mendapat aliran modal yang banyak. Dan sebaliknya nilai mata uang suatu negara akan terkikis nilainya saat banyak modal mengalir ke luar negeri.


6. Pengawasan Pemerintah
Ada dua kebijakan yang sering dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengawasi nilai uangnya. Pertama, kebijakan fiskal dengan menaikkan tarif pajak dan mengetatkan belanja negara. Kedua, melalui kebijakan moneter dengan menaikkan cadangan minimum dan menaikkan suku bank (politik diskonto).

7. Perkiraan (Ramalan), Spekulasi, Isu, dan Rumor.
Ramalan para ahli di bidang perdagangan uang, politik, dan ekonomi yang sifatnya negatif bagi negara tersebut cenderung menyebabkan turunnya permintaan mata uang local. Akibatnya, nilai mata uang local akan semakin turun. Namun, bila perkiraan para ahli tersebut tidak terbukti, ancaman berikutnya datang dari para spekulan uang.

8. Neraca Pembayaran Luar Negeri (balance of payment)
Isi dari neraca pembayaran diantaranya adalah transaksi berjalan (current account=TB), neraca modal (capital account=NM). TB dan NM akan menggambarkan atau memperlihatkan berubahnya cadangan devisa. Apabila TB > NM, berarti cadangan devisa berkurang. Sedangkan jika TB < NM maka cadangan devisa berubah bertambah. Dengan begitu cadangan devisa bernilai positif sehingga berakibat pada sentimen positif nilai mata uang lokal setelah itu nilainya akan semakin meningkat.

9. Pertumbuhan Ekonomi
Efek yang akan diakibatkan oleh suatu kemajuan ekonomi pada nilai mata uangnya tergantung pada corak pertumbuhan ekonomi yan g berlaku. Apabila kemajuan itu terutama diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan ke atas mata uang negara itu naik. Tapi, apabila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor, penawaran mata uang negara itu lebih cepat bertambah dari permintaannya, dengan begitu nilai mata uang negara tersebut akan merosot
10. Perubahan Harga Barang Ekspor dan Impor
Harga suatu barang merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan apakah suatu barang akan diimpor atau diekspor. Barang-barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan menaikkan ekspor dan apabila harganya naik maka ekspornya akan berkurang. Pengurangan harga barang impor akan akan menambah jumlah impor, dan sebaliknya. Kenaikan barang impor akan mengurangi impor.

d. Kurs pertukaran dan Neraca Pembayaran
Telah kita ketahui sebelumnya, bahwa penentu kurs valuta asing adalah pemerintah dan pasar bebas. Ketetapan pemerintah mengenai kurs berdampak pada neraca pembayaran yang tidak seimbang. Sedangkan kurs yang ditentukan oleh pasar bebas akan mengalami disequiblirium terus menerus dalam neraca pembayaran. Lebih jelasnya, perhatikan uraian dan grafik di bawah ini:


1. Neraca Pembayaran dalam Sistem Kurs Tukaran Berubah
Kurva di atas menggambarkan neraca pembayaran dalam sistem kurs tukaran berubah bebas. Kurva dari kiri atas ke kanan bawah (DD) merupakan permintaan penduduk Indonesia terhadap mata uang baht. Dan Thailand menawarkan bath yang ditunjukkan oleh kurva dari kiri bawah ke kanan atas (SS). Bertemunya kurva DD dan SS menunjukkan harga 1 bath sama dengan 200 rupiah. Titik temu merupakan equiblirium sehingga dampaknya impor barang antara Indonesia dan Thailand besar harga kurs nya sama Q1. Lalu terjadi pergeseran yang disebabkan oleh perubahan selera orang Thailand untuk mengimpor lebih barang dari Indonesia. Sehingga faktor cita rasa akan menggeser SS menjadi S1S1. Namun, permintaan orang Indonesia tetap tidak berubah akhirnya nilai mata uang bath turun dari 200 menjadi 100 di mata kurs.
Efek kegiatan di atas dapat mempengaruhi neraca pembayaran. Berubahnya cita rasa penduduk Thailand yang menambah impornya atas Indonesia dari Q1 sampai Q2. Ketika semacam ini terjadi, maka nilai barang Thailand akan menjadi murah dan Indonesia menaikkan tingkat impornya terhadap Thailand akhirnya keadaan neraca pembayaran menjadi seimbang.


2. Neraca Pembayaran dalam Sistem Kurs Pertukaran Tetap
Kurva DD merupakan permintaan Indonesia terhadap dolar dan SS adalah penawaran dolar terhadap Indonesia. Jika kurs ditenntukan oleh pasar bebas maka satu dolar sama dengan 10.000. Pada kurs ini sebanyak Q¬0 ¬ dolar diperjual-belikan antara Amerika dan Indonesia. Dari kurva di atas bahwa permintaan dan penawaran seimbang (10.000,Q0).
Apabila kurs tidak ditetapkan oleh pasar melainkan ditetapkan oleh pemerintah, kemungkinan yang terjadi adalah rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar 12.500 (undervaluaded) dan tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar 7.500 (overvaluaded).
Gambar kurva di atas dapat dikaji jika satu dolar sama dengan 12.500 maka permintaan dan penawaran tidak seimbang. Jumlah yang ditawarkan oleh Amerika lebih besar dari permintaan penduduk Indonesia terhadap dolar. Akhirnya neraca pembayaran Indonesia menjadi surplus.

e. Kelebihan dan kekurangan Pasar Valuta Asing
► Kelebihan
- Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang keadaan dan kurs valuta asing.
- Membantu masyarakat dalam menyediakan uang asing.
- Memudahkan melakukan transaksi dengan pihak asing.
- Mengurangi resiko valas. Bila ditentukan nilai kurs tertentu dalam perjanjian, maka eksportir dan importir yang menandatangani perjanjian akan terhindar dari kerugian besar akibat dari perubahan kurs

► Kekurangan
Mata uang asing yang bebas diperjual-belikan oleh siapa saja dapat memungkinkan terjadinya spekulasi yang merugikan negara.

 III. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

1. Masalah Yang Dihadapi Perekonomian Terbuka
a. Ketika suatu negara menghadapi masalah pengangguran namun pada saat itu pula terjadi surplus neraca pembayaran.
b. Inflasi melanda negara tapi masih diiringi surplus neraca pembayaran.
c. Negara yang dilanda defisit neraca pembayaran dan membludaknya tingkat pengangguran.
d. Inflasi melanda negara dan neraca pembayaran dalam posisi buruk, yaitu deefisit.

2. Kebijakan Pemerintah Menanggulangi Masalah Ekonomi
Dua permasalah di atas (no 1 dan 2) yang perlu diatasi adalah pengangguran atau inflasi, neraca pembayaran yang surplus menunjukkan posisi yang menguntungkan. Oleh sebab itu suatu negara harus menitikberatkan untuk membahas pengangguran atau inflasi.
Permasalahan yang lebih rumit ketika suatu negara menghadapi masalah perekonomian dua sekaligus. Seperti poin 3 dan 4. permasalahan inflasi dan pengangguran yang ditambah dengan terpuruknya neraca pembayaran, yaitu dalam posisi defisit mengharuskan negara untuk menyelesaikan atau membahas dengan tanggap.

a. Kebijakan memindahkan perbelanjaan
Permasalahan negara yang dilanda defisit dan maraknya tingkat pengangguran problem solving-nya dengan menggunakan kebijakan memindahkan perbelanjaan. Kebijakan ini merupakan langkah pemerintah menangani defisit neraca pembayaran sehingga menambah ekspor dan meminimalisir impor.
Langkah pemerintah dalam menghadapi masalah poin 3 di atas yaitu dengan mengurangi impor dan mendorong konsumsi dalam negeri seprti di bawah ini:
a. Melakukan Pembatasan Impor
Barang impor negara dibatasi dengan menaikkan tarif pajak. Tarif pajak ini dilakukan untuk menaikkan harga barang impor. dilain sisi pemerintah menganjurkan kepada penduduknya untuk mengkonsumsi barang milik negara. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan dalam negeri. Sehingga dapat menjadi suplemen neraca pembayaran yang difisit.
b. Menekan atau mengurangi penggunaan valuta asing
Kebijakan ini dilakukan pemerintah dengan cara pemerintah melalui bank central menekan pengguaan valuta asing. Jadi pengusaha dan masyarakat harus memiliki alasan jelas ketika ingin menggunakan valuta asing. Karena pemerintah meng-isyaratkan agar penggunaan valuta asing hanya untuk keperluan barang pokok, bahan mentah sektor industri. Istilahnya pemerintah menggunakan valuta asing dengan skala prioritas.
c. Menurunkan nilai mata uang
Dampak dari kebijakan ini adalah naiknya harga barang barang impor menjadi sangat mahal sehingga akan mengurangi impor. Sedangkan barang ekspor menjadi lebih murah di luar negeri akibatnya ekspor akan bertambah.

Langkah pemerintah untuk menambah ekspor sehingga penerimaan valuta asing meningkat adalah sebagai berikut:
a. Memberikan intensif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan dalam produksi barang ekspor. Maksud dari intensif adalah membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak, memberikan kemudahan pinjaman atau memberi subsidi ekspor.
b. Mewujudkan kestabilan upah dan harga. Kemampuan negara dalam mengekspor barang menjadi penentu persaingan luar negeri. Faktor yang mentukan adalah rendahnya biaya produksi. Untuk itu upah dan harga barang dalam negeri perlu distabilkan.
c. Menurunkan nilai valuta. Selain dapat mengurangi impor turunnya nilai valuta dapat memicu pertambahan ekspor.

b. Kebijakan memindahkan perbelanjaan
Kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah ketika menghadapi permasalahan inflasi dan diiringi defisit neraca pembayaran (masalah no 4). Kebijakan ini hanya mengurangi impror dan tidak berdampak pada ekspor. Kebijakan ini akan menguntungkan atau menyeimbangkan neraca pembayaran. Adapun langkah-langkah kebijakan sebagai berikut:
a. Menaikkan pajak pendapatan
Pendapatan yang siap dibelanjakan akan dikurangi pajaknya sehingga dampak dari pengurangan ini juga akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
b. Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan kebijakan moneter seperti menikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bank (politik diskonto). Akibat dari pengurangan terhadap penawaran uang dan suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi investasi sehingga mengurangi pengeluaran agregat.
c. Mengurangi pengeluraran pemerintah.
Pengeluaran pemerintah merupakan sebagian dari pengeluaran agregat. Berkurangnya pengeluaran pemerintah juga akan mengurangi pengeluaran agregat. langkah pemerintah ini dan langkah menaikkan pajak pendapatan digolongkan sebagai kebijakan fiskal.

c. Devaluasi
Devaluasi adalah langkah pemerintah untuk mengurangi nilai mata uang domestik sebanding dengan nilai mata uang asing.
Efek yang akan ditimbulkan oleh devaluasi adalah:
a. Ekspor bertambah karena pasaran luar negeri menjadi lebih murah.
b. Impor berkurang, karena barang luar negeri menjadi mahal.
c. Naiknya ekspor dan berkurangnya impor akan berdampak pada perbaikan neraca pembayaran.
d. Pendapatan nasional akan bertambah karena (a) ekspor naik, (b) pengurangan impor menaikkan permintaan produksi domestic (c) sehingga mendorong investasi.
e. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga dalam negeri yang diakibatkan oleh naiknya harga barang-barng impor. Inflasi akan berlaku ketika kemakmuran tinggi tarjadi dan dibarengi devaluasi. Hal ini disebabkan karena naiknya ekspor dan berkembangnya kegiatan ekonomi lainnya yang disebabkan oleh devaluasi akan menaikkann upah buruh dan harga-harga karena permintaan yang berlebihan.
f. Kemungkinan terjadi ketika negara melakukan devaluasi negara lain akan menyerang balik sehingga ia melakukan pembatasan impor terhadap negara yang melakukan ekspor dan mendevaluasikan valutanya.

Syarat untuk mensukseskan devaluasi:
a. Ekspor negara elastis.
Dalam keadaan ini hasil penjualan ekpsor bertambah. Apabila permintaan luar negeri ke atas barang ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya tidak elastis, devaluasi akan mengurangi hasil penjualan ekspor.
b. Permintaan impor negara itu adalah elastis.
Apabila permintaan impor elastis, devaluasi mengurangi impor dengan tingkat yang lebih tinggi dari penurunan nilai mata uangnya. Maka pengeluaran terhadap barang impor akan menjadi lebih kecil dari sebelum devaluasi.
c. Di dalam negeri todak belaku inflasi.
Apabila devaluasi menyebabkan inflasi di dalam negeri, barang ekspor dan barang buatan dalam negeri akan mengalami kenaikan harga. Apabila kenaikan harga lebih besar dari tingkat devaluasi akhirnya harga ekspor lebih mahal dan barang impor lebih murah dari sebelum devaluasi. Pada ahkirnya negara itu tidak memperoleh sembarang keuntungan dari devaluasi.
d. Negara lain tidak melakukan aksi balasan dan ber-devaluasi pula.
Apabila negara lain melakukan tindakan yang sama, devaluasi tidak akan memberikan sembarang efek pada neraca pembayaran dan perekonomian negara. Langkah seperti itu akan dijalankan apabila negara lain tersebut merupakan partner dagang yang sangat penting.

https://www.facebook.com/john.pohan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar